Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | January 7, 2016

Wisata Tangkeno

Wisata Tangkeno, Primadona Bombana

Oleh: I Made Asdhiana

 

1350246tangkeno-1780x390

 

Kabupaten Bombana di Provinsi Sulawesi Tenggara sedang berbenah memoles potensi wisata yang dimilikinya agar bisa bersaing dengan destinasi wisata lain di Nusantara.

Kabupaten seluas 2.845,36 km2 dengan ibu kota Rumbia itu memiliki kekayaan alam berupa tambang yang menjadi incaran investor. Namun jangan salah, Bombana juga memiliki kekayaan budaya, keindahan bahari, panorama alam dan warisan sejarah yang masih tersimpan rapi.

Bupati Bombana, H Tafdil menyadari betul potensi pariwisata Bombana untuk diangkat sehingga dikenal wisatawan dalam dan luar negeri. Selain memiliki wilayah di daratan Sulawesi, kabupaten ini juga memiliki pulau-pulau yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Salah satunya Pulau Kabaena.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Desa wisata Tangkeno, di Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara dijuluki ‘Negeri di Awan’ karena berada di ketinggian 700 mdpl.

 

Pulau Kabaena bisa ditempuh dengan waktu sekitar 4 jam dengan kapal motor dari daratan Sulawesi. Pulau Bombana memiliki beragam obyek wisata yang disukai wisatawan, seperti alam yang indah, air terjun, wisata bahari, dan keramahtamahan penduduknya.

Untuk itulah, untuk mengangkat pariwisata Kabupaten Bombana, H Tafdil menetapkan Desa Wisata Tangkeno di Pulau Kabaena sebagai ikon pariwisata Bombana.

Mengapa Tangkeno? Desa yang terletak di ketinggian 700 mdpl ini berhawa sejuk dan memiliki sejumlah obyek wisata andalan.

“Tangkeno dijuluki ‘Negeri di Awan’ dengan hawa sejuk. Ada benteng-benteng tua, pantai berpasir putih dan masih alami,” kata H Tafdil di Plaza Tangkeno, Selasa (22/12/2015) lalu.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Penari cilik dari Desa Tangkeno, di Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Selasa (22/12/2015), dengan latar belakang Gunung Watu Sangia, Selasa (22/12/2015).

 

Plaza Tangkeno merupakan sebuah areal terbuka sebagai tempat pusat pertunjukan untuk menampilkan tarian massal yang dibangun oleh Pemkab Bombana. Aula pementasan dengan arsitektur khas etnik Moronene Kabaena.

Dari Plaza Tangkeno, wisatawan dapat menyaksikan Gunung Watu Sangia, bahkan ada yang menyebutknya sebagai gunung kembar. Selain gunung, yang tak kalah menarik adalah pemandangan pantai dan pulau-pulau yang mengitari Pulau Kabaena. Salah satunya Pulau Sagori, andalan Bombana menarik wisatawan penyuka wisata bahari.

Di ‘Negeri di Awan’ Tangkeno, Pemkab Bombana fokus menjadikan Tangkeno sebagai ikon pariwisata Bombana dalam menarik turis mancanegara dan dalam negeri.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Desa Tangkeno, di Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Selasa (22/12/2015).

 

“Sarana dan prasarana kami bangun. Sebanyak 19 home stay di Plaza Tangkeno dalam proses penyelesaian. Sementara 3 home stay sumbangan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi juga sedang dibangun di Plaza Tangkeno,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bombana, Janariah, S.Sos kepada KompasTravel.

Menurut perempuan kelahiran Tangkeno ini, pengembangan pariwisata Bombana ke depan adalah ingin menerima lebih banyak lagi kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik untuk datang ke desa ini.

“Kami juga mengundang investor untuk mengembangkan kepariwisataan di Tangkeno. Pasalnya, Tangkeno memiliki kekayaan sejarah, masyarakatnya bersifat terbuka, di sini dulu pusat kerajaan, panorama alamnya indah. Belum lagi kekayaan kuliner kami yang beragam,” katanya.

Selain itu, lanjut mantan Camat Kabaena Timur periode 2008-2011 ini, kalender pariwisata tahunan juga digelar untuk menarik wisatawan yakni Festival Tangkeno setiap September yang dirangkaikan dengan acara Sail Indonesia.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Kantor Desa Tangkeno, di Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Selasa (22/12/2015).

 

“Turis sangat antusias. Pulau Kabaena tak hanya memiliki wisata bahari, namun kultur masyarakatnya juga unik. Peranan media sangat membantu kami mempromosikan keindahan Tangkeno khususnya dan Pulau Kabaena umumnya,” katanya.

“Hari ini kami bercita-cita sebagai daerah di mana destinasi wisatanya bisa dikenal hingga mancanegara. Ini masih dalam tahap proses,” sambungnya.

Menurut Janariah, pihaknya juga menggandeng usaha jasa untuk mengembangkan barang-barang kerajinan dan kuliner hingga terangkat ke permukaan dan dikenal wisatawan.

Untuk itu, Pemkab Bombana tak segan-segan mengirim warga di desa wisata ke luar daerah seperti Bali dan kota-kota lain untuk belajar dan mengenal lebih dekat bagaimana mengelola desa wisata.

Janariah pun menyadari dan tak menutup-nutupi bahwa kendala utama mengembangkan Tangkeno sebagai desa wisata adalah dana yang minim serta masalah transportasi. Belum lagi cuaca.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Penari cilik dari Desa Tangkeno, di Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Selasa (22/12/2015).

 

Untuk itulah, tambah Janariah, pihaknya menggandeng Kementerian Pariwisata serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk mengembangkan Tangkeno sebagai ikon pariwisata Bombana.

“Kami harus bergerak cepat untuk mengembangkan pariwisata Bombana. Tak lama lagi kami akan bentuk PHRI dan Asita di Kabupaten Bombana,” katanya.

Kapan waktu yang tepat wisatawan datang ke Kabaena menikmati ‘Negeri di Awan’ Tangkeno? “Yang tepat bulan September. Kalau Desember, cuaca di laut kurang bersahabat. Harapan saya ke depan, wisatawan akan lebih banyak datang ke Bombana,” tambah Janariah.

Sumber:  http://travel.kompas.com/read/2015/12/30/142500427/Inilah.Desa.Tangkeno.Ikon.Pariwisata.Bombana?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | January 7, 2016

Mencumbu Watu Sangia

Mencumbu Watu Sangia di Pulau Kabaena

Oleh: I Made Asdhiana

Ketika kapal mendekati Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, sudah pasti mata penumpang akan menatap gunung dengan dua batu besar bertengger di atapnya.

Itulah Gunung Watu Sangia atau “gunung kembar” yang dinamakan oleh penduduk Pulau Kabaena. Watu Sangia sepertinya mengucapkan selamat datang kepada penumpang KM Pantai Gading ketika membawa rombongan media dan blogger yang diundang Pemkab Bombana memasuki pelabuhan Sikeli di Pulau Kabaena, Selasa (22/12/2015) silam.

Iseng-iseng KompasTravel bertanya kepada warga setempat apakah ada pendaki atau wisatawan yang menjadikan puncak gunung tersebut sebagai tujuan wisata. Jawabannya, belum ada.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bombana, Janariah, S.Sos kepada KompasTravel, Desa Wisata Tangkeno saat ini sedang gencar-gencarnya mengundang wisatawan untuk datang menikmati keindahannya.

“Kami memiliki gunung, air terjun, hiking, Pulau Sagori, kesenian dan keramahtamahan penduduk,” kata Janariah.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Salah satu paket yang nantinya akan ditawarkan kepada wisatawan adalah hiking, sekaligus mendaki Watu Sangia yang memiliki ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.

Edi Sabara, Ketua Umum Pusat Studi Desa Indonesia (PSDI), sebuah lembaga swadaya masyarakat terlihat sangat bersemangat untuk memulai hiking.

Dipandu Ari, seorang mahasiswa pecinta alam dari Banda Aceh serta ditemani para karang taruna, Rabu (23/12/2015) pagi, kami memulai hiking memasuki kawasan hutan di Tangkeno.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Selama dalam perjalanan, Ari menuturkan, dirinya bersama PSDI telah melakukan survei rute hiking ini bersama para pemuda anggota karang taruna Desa Tangkeno. Memang selama menerobos hutan, jalan-jalan yang kami lalui masih terlihat baru dibuka.

Kadang rombongan memasuki semak belukar, jalanan mendaki, atau jalanan menurun. Umumnya perjalanan berlangsung lancar. Atau tiba-tiba peserta hiking menemukan mata air dan tak sungkan-sungkan kami meneguknya, saking jernih disertai rasa haus.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Peserta hiking beristirahat. Hiking, merupakan salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Rombongan yang terdiri dari media, blogger, anggota PSDI dan karang taruna ini memang bukanlah pendaki. Jadi perjalanan dilakukan dengan santai dan saling canda satu sama lain.

Saat fokus berjalan mendaki, nafas peserta terdengar ngos-ngosan, tiba-tiba Edi Sabara mengaku lelah dan mata berkunang-kunang. “Duduk dulu pak, jangan tidur terlentang. Kaki tetap lurus,” kata Ari.

Edi pun mengikuti perintah Ari. Sambil beristirahat, dia meminum air yang disodorkan salah seorang peserta hiking. Setelah cukup beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Keram kaki pun kerap dialami peserta hiking. Aulia, salah satu blogger mengaku matanya berkunang-kunang dan kaki merasa keram.

“Duh, tak kuat. Mata kunang-kunang, kaki juga keram. Istirahat dulu,” katanya. Dengan sigap Ari langsung meminta Aulia duduk dan laki-laki asal Banda Aceh ini mengatasi kaki keram perempuan asal Bandung itu.

Kadang di tengah perjalanan, kami menemukan pondok di mana di sekelilingnya dipenuhi pohon kelapa. Warga yang memiliki kebun langsung memanjat pohon kelapa dan kami pun meminum air segar dari kelapa tersebut sembari beristirahat.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Mendaki Watu Sangia. Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Perjalanan berlangsung santai karena kami tidak semuanya memiliki pengalaman mendaki gunung. Di benak peserta, jalan santai memasuki hutan, menyeberangi aliran air dan jalan setapak tanpa perlu mengeluarkan tenaga ekstra.

Saat jalanan terlalu mendaki, kami pun sadar, puncak Watu Sangia sudah dekat. “Tuh puncaknya sudah dekat,” kata Ari sambil menunjuk batu kembar yang berdiri kokoh.

Melihat batu-batu yang menjulang di tengah-tengah semak belukar, KompasTravel sejenak berpikir, apa bisa dilewati batu tersebut.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Mendaki Watu Sangia. Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Namun rasa khawatir langsung sirna, tatkala melihat Ari dan teman-teman karang taruna Desa Tangkeno dengan gesit menaiki batu-batu tersebut dan bergerak menuju batu berikutnya.

Sementara di samping kami batu-batu cadas Watu Sangia ibarat dinding alam yang berdiri dengan angkuh. Betapa kokohnya…

KompasTravel pun mengikuti langkah pemuda karang taruna sambil dipandu para anggota yang lain. “Tenang pak. Mereka secara alami sudah terbiasa mendaki Watu Sangia. Hanya perlu dipoles teknik mendaki yang benar serta bagaimana cara menangani pendaki yang kelelahan atau keram kaki,” kata Ari.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Mendaki Watu Sangia. Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Benar juga, sedikit demi sedikit dan dipandu anggota karang taruna, KompasTravel akhirnya sampai juga di puncak Watu Sangia. “Ayo terus naik, pemandangan di sini sangat bagus,” tutur salah satu peserta yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak.

Wuihh…. akhirnya sampai di puncak Watu Sangia, betapa indahnya pemandangan dari atas ini. Kalau dua hari sebelumnya kami menyaksikan Watu Sangia dari kapal, sekarang kami sudah berada di puncaknya dan melihat pesisir pantai Kabaena.

Sementara di sisi lain Plaza Tangkeno terlihat jelas dari sini. Betapa nikmatnya melihat pemandangan laut dan gunung dari Watu Sangia ini.

Pantas lah kalau Bupati Bombana begitu menginginkan agar jalur hiking menuju Watu Sangia segera diperkenalkan kepada wisatawan. Ternyata pemandangan dari puncak ini begitu memesona.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Saat mendaki memiliki tantangan tersendiri. Begitu pula ketika turun, tantangan serupa masih menghadang. Namun dengan tetap berhati-hati, kami akhirnya bisa turun dengan selamat, meskipun kadang anggota rombongan ada yang tergelincir karena tanah yang dipijak sangat licin dan curam.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bombana, Janariah, S.Sos mengaku kagum kepada peserta hiking yang berhasil mencapai puncak Watu Sangia. Padahal dirinya yang sudah lama ingin mencapai puncak tersebut tetapi belum juga terwujud.

Untuk menjadikan hiking sebagai paket wisata membutuhkan perbaikan di sana sini. Pemkab Bombana sudah selayaknya mulai memperbaiki beberapa sarana dan prasarana sehingga semakin memudahkan wisatawan mengikuti paket tersebut.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Puncak Watu Sangia. Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Tak ada salahnya jika waktu dan jarak hiking diperpendek. Karena pengalaman saat mengikuti hiking yang dimulai pukul 09.00 baru berakhir pukul 16.30.

Selain itu perlu dibuatkan juga tempat-tempat istirahat semacam saung sederhana di tengah hutan sehingga peserta hiking bisa beristirahat atau berteduh bila hujan tiba.

Ari pun berharap para anggota karang taruna Desa Wisata Tangkeno sudah bisa memandu wisatawan peserta hiking ke Watu Sangia. Saat ini harga paket wisata hiking sedang disusun.

“Kami belum menetapkan harga paket hiking. Secepatnya akan kami buat setelah berdiskusi dengan teman-teman karang taruna,” ujar Edi Sabara.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Hiking, salah satu paket wisata di Desa Wisata Tangkeno, Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/12/2015).

 

Jika harga paket hiking sudah dipublikasikan dan para anggota karang taruna Desa Tangkeno makin terampil melayani wisatawan ditambah transportasi menggunakan mobil atau motor tersedia menuju hutan terdekat, dipastikan peminat paket hiking Watu Sangia mulai tumbuh di waktu mendatang…

Sumber:  http://travel.kompas.com/read/2016/01/05/193100027/.Ngos-ngosan.Mendaki.Watu.Sangia

 

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 28, 2015

Cerita Benteng di Tangkeno

CERITA BENTENG DI TANGKENO PULAU KABAENA

Oleh: Yamin Indas

 

Foto: Satu-satunya alat perang modern di benteng Tawulagi adalah sebuah meriam kuno peninggalan sekelompok kapal dagang dan militer yang tenggelam di Pulau Sagori, Kabaena, di awal abad ke-17 (Sumber: Yamin Indas).

 

SEJUMLAH benteng di sekitar Desa Tangkeno praktis menjadi salah satu obyek wisata ‘Negeri di Awan’ tersebut. Ada 5 benteng di kawasan wisata tersebut. Dua di antaranya yakni benteng Tawulagi dan Tuntuntari berjarak kurang dari satu kilometer dari perkampungan penduduk. Sedangkan tiga lainnya agak jauhan, sekitar 4-5 Km dari pusat permukiman.

Keberadaan benteng tersebut menunjukkan bahwa Tangkeno sebagai pusat budaya dan peradaban masyarakat Kabaena di Pulau Kabaena merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Buton di masa lalu. Kerajaan ini berubah menjadi kesultanan setelah raja ke-6 bernama Lakilaponto memeluk Islam. Maka dia pun bergelar sultan, seperti halnya para pemimpin negeri-negeri Islam di bawah pengaruh Khalifah Utsmaniah yang berpusat di Istanbul (Turki). Istanbul sebelumnya bernama Konstantinovel.

Baik sebelum maupun setelah menjadi kesultanan, negeri tersebut selalu diganggu gerombolan bandit atau perampok yang berasal dari wilayah Ternate, sebuah kesultanan yang mengklaim Kesultanan Buton sebagai wilayah kekuasaannya (J.W. Schoorl, JAMBATAN 2003). Klaim tersebut bertolak dari anggapan bahwa Ternate-lah yang menyebarkan agama Islam ke Kerajaan Buton.

Kesultanan Buton adalah wilayah yang sangat terbuka dengan dunia luar. Ia terdiri dari pulau-pulau dan pantai. Pulau-pulau agak besar adalah Buton, Muna, dan Kabaena, lalu gugusan Kepulauan Tukang Besi (kini Kabupaten Wakatobi). Wilayah pantai mencakup pesisir selatan jazirah tenggara Pulau Sulawesi yang disebut Poleang dan Rumbia (kini Kabupaten Bombana).

Menjadi pertanyaan mengapa wilayah Kesultanan Buton tersebut dijadikan sasaran perampok dari Maluku? Cerita masyarakat Kabaena lebih spesifik menyebut orang Tobelo, Maluku Utara, sebagai pelaku kejahatan tersebut. Apakah perilaku tersebut berlatar belakang politik, atau hanya bermotif ekonomi belaka. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban para peminat sejarah lokal kerajaan Islam Buton.

Secara ekonomi Kesultanan Buton harus diakui lebih baik. Pasalnya, orang Buton suka bekerja ulet, baik sebagai petani tradisional maupun sebagai pelaut. Kaum wanita Buton juga tidak suka hidup berpangku tangan. Sambil menunggu suaminya bekerja di ladang atau dari pelayaran, mereka aktif menenun kain di bawah kolong rumah, untuk menghasilkan bahan pakaian. Dengan demikian, negeri ini di masa lalu sesungguhnya relatif mampu memenuhi kebutuhan sendiri, baik kebutuhan sandang maupun pangan.

Kerawanan negeri ini adalah justru di bidang keamanan. Dan sumber ancamannya datang dari utara yaitu para perampok asal Maluku itu. Tantangan ini kemudian diatasi dengan membuat benteng pertahanan di hampir semua tempat konsentrasi penduduk dalam wilayah Kesultanan Buton. Keraton sendiri berlokasi di sebuah benteng luas di atas ketinggian Kota Bau-Bau sekarang. Benteng itu kemudian disebut Benteng Keraton Buton.

Benteng tersebut dikenal sebagai benteng terluas di dunia (23,375 hektar). Konon jika dilihat dari udara, Benteng Keraton Buton menampilkan konfigurasi huruf Arab dal (Latin d). Total panjang konfigurasi huruf dal sekitar 2.740 meter. Huruf dal adalah huruf terakhir nama Nabi Muhammad Saw. Perihal tersebut menjadi sumber motivasi dan inspirasi masyarakat Buton sebagai penduduk negeri Islam di mana berlaku norma dan ajaran agama Islam yang dibawa Rasulullah Saw.

Setelah Benteng Keraton Buton, bangunan serupa yang tersebar di hampir seluruh wilayah kesultanan tentu saja berukuran lebih kecil dan lebih sederhana. Hanya strategi penempatan lokasinya sama: di atas bukit yang bertebing terjal. Begitulah semua kondisi benteng di Pulau Kabaena, termasuk benteng di Desa Tangkeno.

Benteng Tuntuntari

Benteng ini terletak di sebuah bukit terjal dalam kawasan lereng Gunung Sangia Wita (1.850 M), salah satu atap di Sulawesi Tenggara. Akses ke benteng berupa jalan agak lebar dan bisa dilalui kendaraan roda empat sampai ke titik paling terjal. Perjalanan sekitar 200 meter dilanjutkan dengan jalan kaki untuk mencapai pintu gerbang. Bentuk benteng dengan luas sekitar 3 hektar ini oval sesuai kondisi pelataran puncak bukit.

Bangunan benteng terdiri dari susunan batu gunung pipih warna gelap. Sebagian masih tersusun utuh kendati dikangkangi belitan akar pepohonan liar. Sebagian lagi telah dipugar atas biaya Pemda Kabupaten Bombana. Ketinggian tidak merata menyesuaikan konjungtur bibir tebing. Ada yang 2 meter, dan paling tinggi 3 meter. Ketebalan tembok sekitar 1,5 meter.

Daya tarik benda peninggalan masa lalu tersebut tentu saja sejarah dan proses pembuatannya. Namun, sejarah pendiriannya masih kabur. Pihak kepurbakalaan belum pernah melakukan penggalian untuk mengukur usia benda-benda benteng. Cerita penduduk juga banyak versinya. Nama benteng Tuntuntari tidak jelas apakah nama itu diambil dari seseorang penguasa (mokole) lokal, atau dari nama pohon bambu, misalnya. Apalagi tahun pembangunan benteng, lebih gelap lagi.

Keistimewaan mengunjungi benteng ini adalah jangkauan pemandangan alam lebih luas. Dari benteng ini kita bisa menyaksikan fenomena alam pegunungan Pulau Kabaena, karang atol (Pulau Sagori) yang tampak terapung di atas kebiruan laut, dinding puncak Sangia Wita dan bukit-bukit lain. Konon, Kota Bau-Bau yang berkilau di malam hari dapat dilihat dari benteng ini.

Benteng Tawulagi

Obyek yang satu ini bernama benteng Tawulagi. Sama dengan Tuntuntari, pemberian nama Tawulagi tidak jelas alasannya. Apakah itu berasal dari nama seseorang yang diabadikan, atau nama sesuatu benda. Dibanding yang lain, Tawulagi agak menarik. Di tengah benteng terdapat sebuah kamar dengan sebuah amben yang juga tersusun dari batu. Boleh jadi, ini tempat istirahat mokole atau penguasa lokal.

Ada indikasi bahwa di benteng ini sering terjadi penyergapan pihak bandit dan mendapat perlawanan penduduk. Di sekitar benteng banyak kuburan dan sering pula ditemukan belulang manusia. Bahkan, dua tahun lalu saat benteng dipugar, warga Tangkeno menemukan sesosok rangka manusia berpostur tinggi besar masih berbekal golok di pinggangnya. Sosok itu tersandar di dinding tembok benteng. Dari posturnya itu disimpulkan bahwa dia adalah anggota kelompok penyerang dari suku Tobelo, Maluku Utara.

Sekitar 3 Km dari Tawulagi ada lagi sebuah benteng bernama Tondowatu. Menurut Kepala Desa Tangkeno, Abdul Madjid Ege, di situ pernah pula terjadi penyerangan oleh sekelompok Tobelo. Kelompok ini memasuki benteng dengan cara baik-baik dan meminta makan karena mereka sedang kelaparan. Tetapi ketika penuduk benteng terlelap tidur, kelompok ini menyerang dan berhasil membawa kabur seorang anak gadis. Konon anak gadis Kabaena tersebut kemudian diperistri dan melahirkan banyak keturunan di sana (Tobelo).

Benteng Tawulagi lebih mudah dikunjungi. Benteng ini terletak di jalan poros Tangkeno – Enano. Sedangkan lokasi benteng tidak terlalu sulit didaki.

Upaya Bupati Bombana Tadfdil membangun Tangkeno sebagai destinasi wisata di Kabupaten Bombana patut diapresiasi. Bupati Tafdil kini masih merampungkan pembangunan kompleks plaza di sebuah puncak yang indah. Di situ dibangun beberapa sarana dan fasilitas seperti gedung serba guna, rumah adat, masjid, pelataran luas untuk pameran dan pementasan seni. Dilengkapi pula dengan lampu tenaga surya untuk penerangan di malam hari. Tetapi masih ada lagi infrastruktur vital yang perlu diwujudkan yaitu fasilitas air bersih dan sarana jalan beraspal.

Selain itu pemda dan pihak-pihak terkait kiranya perlu merasa terpanggil untuk menyiapkan perilaku dan mentalitas masyarakat Tangkeno dan Kabaena umumnya untuk bersikap ramah, memberi rasa nyaman serta aman bagi pengunjung (turis), memanfaatkan kunjungan turis sebagai peluang ekonomi dalam bentuk penjualan makanan, minuman, souvenir, pertunjukan seni budaya spesifik (unik), termasuk pelaksanaan syari’ah Islam. ***

 

Sumber: http://www.yaminindas.com

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 17, 2015

Lumense

Tari Lumense

 

lumense.jpg

Foto: Arman Kabaena (Grup Kabaena-Moronene).

 

Tarian tradisional dengan baju adat khas Kabaena. Biasa juga disebut “tari potong pisang”, karena menyertakan pohon pisang beneran di sela-sela tarian. Penari bertopi caping lebar dengan parang di tangan, konon diibaratkan pria, sedangkan penari bertopi gelang diibaratkan wanita. Tari ini biasa dipersembahkan sebagai tarian penyambutan tamu. Di klimaks narasi tari, sang ‘pria’ akan memotong batang pisang yang sudah dipersiapkan, lalu sang ‘wanita’ melenggokkan piring di tangannya, gembira.

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 17, 2015

Eksotisme Negeri di Awan

Menjelajahi Benteng di Pelukan Awan

Oleh: Rendra Manaba

 

Desa Tangkeno merupakan wilayah Kecamatan Kabaena Tengah Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara. Desa Tangkeno berada di ketinggian ± 650m dpl, tepat berada dilereng salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara yaitu gunung Sabampolulu yang memiliki ketinggian 1500 m. Jarak dari Tangkeno ke ibukota Kecamatan Kabaena Tengah di Lengora adalah ± 10 km, jarak dari Dongkala yang merupakan wilayah pesisir laut masuk dalam Kecamatan Kabaena Timur yang rutin disandari oleh kapal menuju Kota Baubau berjarak ± 19 km menuju Tangkeno, sementara jarak dari Sikeli Kecamatan Kabaena Barat yang menjadi jalur utama kapal dari Rumbia ibukota Kabupaten Bombana ke Tangkeno ± 17 km. Tangkeno merupakan pemekaran dari Desa Enano.
desa wisata.jpg
Pada awal pemekaran, Desa Tangkeno bernama Desa Enano di Tangkeno, sedangkan Desa induk disebut Desa Tangkeno di Enano. Perubahan nama Desa dari Desa Enano di Tangkeno menjadi Desa Tangkeno terjadi pada tahun 2013. Penetapan Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata tentunya tidak lepas dari keberadaan potensi pariwisata yang ada di Tangkeno yaitu berupa pemandangan alam, situs sejarah, air terjun, lokasi tracking dan kearifan lokal. Wilayahnya merupakan daerah pegunungan yang berada diketinggian hingga bersatu dengan awan yang selalu menghiasi langit disetiap matahari mulai terbit kemudian terbenam kembali. Gunung Sabampolulu Puncak Gunung Sabampolulu Pemerintah Kabupaten Bombana menetapkan Desa Tangkeno sebagai Desa Wisata dengan mengangkat tagline “Negeri Di Awan”.
Ini merupakan upaya nyata dari seluruh warga pulau Kabaena untuk mendorong pengembangan industri pariwisata sekaligus pelestarian situs sejarah, seni budaya, adat istiadat dan kearifan lokal yang masih terjaga dengan sangat baik di Tangkeno, yang merupakan daerah resapan air pulau Kabaena. Negeri Di Awan bukan hanya sekedar tagline ataupun istilah belaka, Desa Tangkeno merupakan wujud nyata dimana posisinya benar-benar berada di dalam awan yang memberikan kesejukan alamiah membendung teriknya sinar matahari dengan beragam keindahan alam yang menakjubkan.
peta wisata.jpg
Di sini terdapat beberapa spot wisata yang sungguh memukau mata, hati dan rasa. Tercatat ada delapan spot pariwisata, diantaranya: Bantea Ponahuagola (pondok pembuatan gula aren), Pintu Gerbang Desa Wisata Tangkeno “Negeri di Awan”, Benteng Tawulaagi, Bantea Mpogurua (rumah belajar), Anjungan Tangkeno, Benteng Tuntuntari, Tondopano (air terjun) dan Puncak Gunung Sabampolulu. Dari sini dapat terlihat jelas puncak gunung Sangiawita yang cukup unik, berupa batu besar berbentuk tanduk ataupun mahkota Mokole/Sangia/Raja tepat berada diatas kepala gunung Sangiawita. gunung Sangiawita Di Desa Wisata Tangkeno terdapat Benteng Tuntuntari yang memiliki letak sangat strategis, karena dari sini dapat terlihat jelas wilayah Kabaena bagian timur, selatan, barat maupun utara. Benteng ini dibangun pada zaman Kerajaan Moronene Tokotua/ Kotua masih dalam satu kekuasaan yang diyakini dibangun pada tahun 1600-an.
gerbang benteng.jpg
Di dalam benteng tersebut terdapat beberapa makam leluhur penduduk Tangkeno. Benteng Tuntuntari memiliki peranan penting bagi seluruh warga pulau Kabaena, karena benteng ini merupakan tempat teraman dan menjadi pelindung terakhir bagi segenap rakyat Tokotua/Kotua dari marah bahaya ataupun serangan musuh. gerbang Benteng Tuntuntari Lokasi Benteng Tuntuntari sangat tersembunyi dan letaknya sangat berliku walaupun berada tidak terlalu jauh dari perkambungan warga Desa Tangkeno sekitar ± 3 km. Untuk menuju ke sana melewati lembah dan beberapa bukit naik turun, naik turun. Dahulu hingga di masa pemberontakan DI/TII Benteng ini sangat sulit untuk dicari ataupun didapat, karena tempatnya tertutupi oleh pohon bamboo diseluruh bagian benteng baik depan, belakang maupun samping kiri dan kanan..
Menempuhnya dengan berjalan kaki, satu-satunya kendaraan yang dapat digunakan untuk menuju ke Benteng tersebut adalah dengan berkuda tanpa kereta. Namun sekarang benteng yang hingga kini masih tertutupi oleh pohon bamboo disekelilingnya, dapat dilalui dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat dan dapat parkir dibawah gerbang masuk benteng.
area benteng.jpg
Tuntuntari terbagi atas dua kata, dalam bahasa Moronene Tuntu berarti Diketinggian/Ujung dan Tari berarti Bambu, Tuntuntari berarti “Ketinggian/Ujung yang sejajar dengan Bambu”. Letak benteng yang berada diketinggian disisi gunung Sabampolulu tidak akan terlihat dari bawah perkampungan warga Desa Tangkeno, juga dari puncak Tangkeno maupun dari puncak gunung Sabampolulu. Begitupun jika mencarinya lewat maps dan google earth tak akan terlihat bentuk benteng, melainkan di dapat hanya hutan gunung yang lebat dipenuhi oleh pohon bambu. Lokasi Benteng Tuntuntari tertutup sangat rindang namun rapi oleh pohon bambu yang tumbuh secara berlapis. Penglihatan, pengamatan dan pemandangan akan berbanding terbalik jika sudah berada di dalam Benteng Tuntuntari.
benteng.jpg
Dari dalam benteng kita dapat menyaksikan pulau Kabaena secara keseluruhan disegala arah, dapat sangat jelas melihat perkampungan warga Desa Tangkeno, puncak Tangkeno maupun gunung Sabampolulu hingga dipuncaknya serta lautan yang mengelilingi pulau Kabaena. Ini merupakan bentuk keunikan dan ciri khas tersendiri dari benteng Tuntuntari dibandingkan dengan benteng-benteng yang ada di dunia. Sungguh sebuah keajaiban dan bukti kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. susunan dinding benteng tanpa perekat Konstruksi dinding benteng unik ini, hanya berupa susunan-susunan batu gamping namun tersusun dengan rapi dan terarah tanpa perekat apapun. Berbeda dengan benteng-benteng situs sejarah lainnya yang menggunakan telur sebagai perekat untuk memperkuat susunan batu yang menjadi dinding benteng.
benteng2.jpg
Pembangunan Benteng Tuntuntari dikerjakan oleh rakyat Tokotua/Kotua diseluruh wilayah pulau Kabaena secara gotong royong. Tinggi dinding benteng sekitar 2 m, Ketebalan dinding rata-rata 1,5 m dan ada beberapa titik yang ketebalan dindingnya mencapai 3 m sebagai tempat kontrol dan monitor keadaan diluar benteng hingga ke laut melihat kapal-kapal asing yang masuk ke pulau Kabaena. tempat kontrol dan monitor keadaan diluar benteng Ukuran benteng yang diselimuti oleh pohon bamboo ini tidak luas dan besar seperti benteng-benteng yang melindungi istana. Tujuan benteng yang sangat tersembunyi ini bukan sebagai pangkalan militer, pusat pemerintahan dan tempat politik praktis ataupun sebagai benteng yang dapat memancing terjadinya peperangan. Disini tidak terdapat persenjataan baik meriam ataupun senjata serbu lainnya, Benteng Tuntuntari adalah Benteng Kedamaian. Tuntuntari dijadikan sebagai tempat persembunyian warga pulau Kabaena dari serangan perompak dan penjajah. area dalam Benteng Tuntuntari Benteng Tuntuntari berbentuk lingkaran lonjong seperti bentuk perahu (katinting). Dengan luas bagian tengah sekitar ± 30 m, dibagian depan dan belakang sekitar 5 – 10 m dan panjang benteng sekitar ± 70 m.
area benteng1.jpg
Di bagian dalam benteng terdapat makam leluhur penduduk Desa Tangkeno yang berada digerbang masuk benteng. Makam tersebut ditandai dengan adanya susunan batu berbentuk persegi empat dan dilindungi oleh pohon beringin besar yang batang dan rantingnya tersebar disekitar dalam benteng. Didalam Benteng Tuntuntari ditumbuhi beberapa pohon beringin, pohon jeruk purut dan beberapa pohon lainnya yang tumbuh subur. Makam Leluhur Keberadaan Benteng di Tangkeno membuktikan bahwa peradaban suku Moronene sejak dahulu kala memiliki tingkatan intelektualitas, memiliki kekayaan seni budaya, serta pesona alam yang eksotik dan kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik hingga kini nyaris tanpa adanya perubahan berarti, walaupun peradaban sekarang semakin maju dan canggih. Di wilayah Desa Wisata Tangkeno “Negeri Di Awan” selain Benteng Tuntuntari juga terdapat empat benteng lainnya yaitu Benteng Tawulaagi, Benteng Tandowatu, Benteng Ewolangka dan Benteng Doule. Ke empat benteng tersebut mengelilingi perkampungan warga Tangkeno, seakan menjadi ujung tombak yang melindungi penduduk Tangkeno.
benteng1
Benteng Tawulaagi berada tak jauh dari gerbang masuk kampung Tangkeno. Berbeda dengan Benteng Tuntuntari, Benteng Tawulaagi adalah benteng pertahanan yang berperan sebagai pangkalan militer dan pasukan perang. Dulunya benteng itu dijaga oleh Tamalaki (pasukan ksatria perang Moronene). Dibenteng itu terdapat sebuah meriam yang mengarah tepat ke lautan. Alkisah keberadaan meriam di Benteng Tawulaagi diceritakan oleh Abdul Majid Ege, seorang tokoh adat Kabaena dan mantan Kepala Desa Tangkeno. Mengisahkan bahwa meriam itu diambil dari kapal VOC milik Belanda ditahun 1907 yang karam diperairan pulau Sagori dalam perjalanan menuju Ternate – Maluku. turis domestik dan mancanegara Meriam peninggalan kapal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda itu sengaja disimpan di Benteng Tawulaagi untuk berjaga-jaga dan dijadikan sebagai tambahan alutsista pasukan Tamalaki.
makam.jpg
Nama Tawulaagi diambil dari nama seorang ksatria komandan pasukan Tamalaki yang gagah perkasa. Namun sejak adanya meriam tersebut sampai saat ini belum pernah sama sekali digunakan, walau beberapa kali telah terjadi penyerangan dipulau Kabaena oleh pasukan bajak laut Tabelo yang berasal dari Maluku. Kawasan Tangkeno dipercaya sebagai pusat Kerajaan Moronene Mokole Kotua, tutup Abdul Majid.
benteng3
Setiap tahun dan setiap hari libur, para wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara berdestinasi ke Desa Tangkeno untuk merasakan Ditengah Pulau Eksotik, Ada “Negeri Di Awan” Yang Berbenteng. Mereka dapat merasakan suasana berada di dalam awan, serta berkunjung ke beberapa benteng batu yang ada dipegunungan dan menikmati pemandangan alam yang memberikan kesejukkan. Tahun ini di bulan Agustus – September akan diselenggarakan Sail Indonesia dengan spot destinasi pulau Sagori, Desa Wisata Tangkeno, Pulau Komodo dan Teluk Tomini. Pemerintah Kabupaten Bombana telah melakukan persiapan untuk menyambut rombongan turis asing tersebut. Hari ini di lapangan dan anjungan Tangkeno telah dilakukan latihan tari kolosal sebanyak 50 orang penari lokal Moronene. “Jangan lupa tinggalkan kenangan baik selama anda berada di Tangkeno, bawalah pulang sampah anda sekecil apapun”.
Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 17, 2015

Negeri di Awan

Negeri di Awan

Oleh: Rizal Purnawan

 

11701135_906974156014847_8155125663720142036_n

Foto: Adi Putrawan (Grup Kabaena-Moronene).

 

Pulau Kabaena atau Tokotua, sebuah pulau eksotis dengan luas 873 kilometer persegi di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Pulau ini memiliki banyak obyek wisata seperti Kampung Tangkeno, Gua Batuburi, Gunung Watusangia dan pulau kecil yang bernama Pulau Sagori yang berada di sebelah barat Pulau Kabaena. Kampung Tangkeno adalah pusat kebudayaan masyarakat Pulau Kabaena. Kehidupan penduduk tradisional Pulau Kabaena senantiasa mencerminkan nilai-nilai luhur dan falsafah hidup.

See the video here (lihat videonya di sini):  http://netcj.co.id/travelling/video/142258/desa-tangkeno-negeri-di-atas-awan

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 16, 2015

Kabaenapedia

Ensiklopedia Budaya Kabaena

 

 

Banteya.

Dangau atau pondok pengolahan gula merah.

 

Gola Ni’i.

Biasa disebut juga “Gula Kelapa”.

 

Kabaena Kampo Tangkeno.

Lagu daerah Kabaena paling populer yang menggambarkan alamnya yang indah dan masyarakatnya yang ramah. Diciptakan oleh Imaduddin (kalau tidak salah), pria Buton yang beristrikan wanita Kabaena.

 

Kandoli.

Mitos dan hal-hal berbau mistis sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Kabaena. Salah satunya kepercayaan terhadap kandoli atau hantu/ setan. Konon, pulau Kabaena dihuni oleh banyak hantu, terutama di hutan-hutannya, baik hantu baik, jahat maupun usil. Pendatang biasanya diusili oleh hantu-hantu ini, misalnya topi dan bajunya ditarik, atau dicolek oleh makhluk tak kasat mata, hiiiii….

 

Kompe.

Wadah dari anyaman daun pandan seukuran punggung orang dewasa, biasanya disertai tali pandan yang dikaitkan di kepala (seperti noken papua), kemudian dipikul di punggung, kebanyakan digunakan oleh ibu-ibu untuk mengangkut hasil kebun.

 

Lakambula.

Sungai terbesar yang membelah Kabaena. Sungai atau kali di Kabaena bukan hanya fenomena geografis, tapi merupakan ruang budaya dan sosial masyarakat. Selain sebagai lintasan penyeberangan dengan batu-batu loncatan yang berukuran besar, sungai juga digunakan sebagai tempat mandi, cuci dan bercengkerama bahkan bergosip. Beberapa orang Kabaena juga kadang mencoba menangkap udang di balik bongkahan batu-batu, meskipun hasilnya tidak seberapa.

 

Lumense.

Tarian tradisional dengan baju adat khas Kabaena. Biasa juga disebut “tari potong pisang”, karena menyertakan pohon pisang beneran di sela-sela tarian. Penari bertopi caping lebar dengan parang di tangan, konon diibaratkan pria, sedangkan penari bertopi gelang diibaratkan wanita. Tari ini biasa dipersembahkan sebagai tarian penyambutan tamu. Di klimaks narasi tari, sang ‘pria’ akan memotong batang pisang yang sudah dipersiapkan, lalu sang ‘wanita’ melenggokkan piring di tangannya, gembira. Diahiri dengan melulo, yakni gerakan tari dengan berjajar saling bergandeng/ mengaitkan tangan sambil menghentak-hentakkan kaki ke kiri dan ke kanan.

lumense2.jpg

 Foto: Arman Kabaena (Grup Kabaena-Moronene).

 

Sabampolulu.

Gunung tertinggi di Kabaena dan terkenal seantero Sulawesi Tenggara. Bersama puncak Sangia Wita, banyak mitos-mitos dan cerita mistis yang berkembang terkait gunung ini, sehingga menjadikannya obyek budaya turun-temurun.

sabampolulu.jpg

 Foto: Rendra Manaba (kompasiana.com)

 

Tabeya.

Sebagaimana lazimnya adat Timur, orang Kabaena juga sangat mengagungkan sopan santun. Tabeya adalah istilah untuk sikap permisi. Jika berjalan di hadapan orang-orang tua atau melewati barisan orang duduk dalam sebuah kenduri, biasanya sikap tabeya ditunjukkan dengan badan sedikit membungkuk dengan tangan kiri menangkup dada dan tangan kanan dijulurkan ke bawah dengan telapak tangan terbuka. Langkah pelan, lurus dan sedikit terseret.

 

Tinula.

Biasa disebut juga “Nasi Bambu”. Mirip Lemang di Minangkabau. Makanan tradisional khas Kabaena ini terbuat dari nasi ketan yang dimasukkan ke dalam sejenis bambu hutan, yang di dalamnya telah dilapisi daun pisang, kemudian dibakar/ dijerang di api tungku selama beberapa jam. Setelah matang, biasanya kulit luar bambu yang gosong segera dikuliti, sehingga yang tersisa hanya kulit dalam bambu sebagai pembungkus. Cara menyajikannya dengan menguliti kulit dalam, kemudian isinya yang terbungkus daun pisang (biasanya jadi berminyak dan layu oleh panas pembakaran), dikeluarkan dan disajikan di piring dengan lauk daging ayam atau ikan asin bakar dan sayur lodeh terong bulat. Tinula atau nasi bambu ini biasanya menguarkan wangi khas perpaduan aroma bambu dan daun pisang bakar yang menggoda selera. Nasinya juga kadang disisipi inti daging di dalamnya sebagai variasi, tapi kebanyakan polos hanya nasi saja, lalu disajikan dengan lauk daging (ayam) atau ikan dan sayur.

 

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 16, 2015

Kamus Bahasa Kabaena

Kamus Bahasa Tokotu’a

 

A

Ada = Dahoo

 

B

Bagus = Moyico

 

 

 

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | December 16, 2015

Air Terjun Tangkeno

Wisata Alam:

Air Terjun TANGKENO “Negeri di Awan”

Oleh: Yamin Indas


Memang sangat pantas Tangkeno ditetapkan sebagai desa wisata. Sebab ‘negeri’ ini menawarkan ragam pesona, di antaranya fenomena alam pegunungan dan pesisir pantai, serta pemandangan laut biru tak bertepi. Fenomena lain adalah air terjun yang muncul dari sebuah formasi batuan di hulu Sungai Lakambula. Tangkeno sendiri terletak di lereng Gunung Sangia Wita, berhawa sejuk dan setiap saat berselimutkan awan berarak. Cocok dengan slogan ‘Negeri di Awan’ untuk branding (pemerekan) desa wisata Tangkeno.

Lokasi air terjun hanya sekitar 6 km dari desa tersebut. Aksesnya sudah dibuka dengan sebuah ruas jalan yang bisa dilalui kendaraan roda dua dan mobil. Masih berupa jalan tanah yang pasti licin pada musim hujan. Tetapi kondisi tersebut justru menawarkan tantangan bagi para petualang yang ingin mereguk fenomena alam air terjun dan kehidupan liar di hutan.

Perjalanan dari Tangkeno ke lokasi air terjun (tondopa, bahasa Kabaena/Moronene) bergerak  menyusuri pinggang bukit sebelum menurun ke batang sungai. Batang Sungai Lakambula merupakan palung yang cukup dalam dari atas bibir tebing. Ketika tiba di tepi sungai, kita disambut hutan belukar dan pepohonan  enau (aren) dan belukar liar lainnya.  Dan gemuruh air sungai makin berisik seakan mengucapkan selamat datang kepada pengunjung. Air Sungai Lakambula mengalir di atas formasi batu-batu besar berwarna gelap. Airnya bening,  dan segera mengalirkan energi kesejukan ke sekujur tubuh bila kita menyentuhnya.

Awal Desember 2015 baru sesekali turun hujan di wilayah Desa Tangkeno. Artinya, musim kemarau masih berlangsung di sana. Maka tidak heran jika air sungai terbesar di Pulau Kabaena itu masih menyurut tajam. Alirannya lemah kendati menerjang batu lalu jatuh ke lubuk batu-batu besar. Meskipun demikian tidak mengurangi suasana liar dan angker yang penuh teka-teki sebagaimana fenomena alam pada umumnya.

Seperti disebutkan di atas, alur sungai ini merupakan sebuah palung dengan kedalaman  ratusan meter dari atas bibir tebing. Pada kedua dinding tebing berdiri pepohonan besar di celah batu-batu besar berwarna gelap. Bunyi elang dan burung hantu yang terusik kehadiran manusia di dasar palung (sungai) membuat suasana bertambah angker. Tetapi tidak perlu cemas karena binatang buas tidak ada di sana. Paling banter hanya ada ular sanca, tapi juga tidak keluar pada musim musim kemarau. Nyamuk pun tak ada.

Untuk mencapai tondopa, kita harus menyusuri sungai ke arah hulu, tentu setelah kita memarkir kendaraan di tepian. Kita akan menemukan  sekitar 4 kolam dalam penyusuran ini. Nah, kolam ke-5 adalah genangan tempat jatuhnya air terjun alias tondopa.

Masya Allah! Ada perubahan besar rupanya telah terjadi yang membuat suasana dan kondisi fisik tondopa agak berbeda dengan keadaan yang pernah saya lihat saat mengunjungi tempat ini sekitar bulan Juli 1996. Ketika itu aliran air sungai ini benar-benar terjun dari ketinggian sekitar 60 meter. Terjunan air membentuk siku 90 derajat saat menerjang kolam. Kolam tempat jatuhnya air juga luas. Kemudian ada ruang yang cukup luas di antara dinding batu dan terjunan air.

Tondopa sekarang merupakan sebuah terjunan yang landai dengan kemiringan 60-70 derajat. Masih menarik dan tetap menyimpan rahasia alam. Namun tidak seangker dan liar seperti yang pernah saya saksikan dulu, pada tahun 1996 itu. Erosi berat dan longsor rupanya telah terjadi di dalam kurun waktu 19 tahun terakhir. Tidak ada keterangan dari penduduk setempat tentang peristiwa alam itu. Beberapa batu besar yang menjadi titik landas lepasnya air ke bawah (erjun) telah longsor dan membentuk formasi baru di lantai sungai. Pepohonan sekitarnya juga bertumbangan.

Air terjun formasi baru saat ini menjadi salah satu ikon wisata Desa Tangkeno. Kolamnya tampak lebih dalam karena arealnya agak menyempit. Saya sendiri tidak berani nyemplung di situ, takut kesedot ke lubuk sempit. Saya memilih kolam berikutnya ke arah hilir. Saya nyemplung, berenang, nyilam, menyatu dengan alam.

Petualangan saya ke hulu Sungai Lakambula belasan tahun silam itu tujuan pokoknya ialah melihat jejak manusia purba. Pengantar antara lain A Basir alias Mboua dan Abdul Madjid Ege (kini Kades Tangkeno), sengaja membuat rute yang melewati Tondopa. Tetapi tebing batuan lokasi Tondopa terlalu terjal sehingga kami harus memanjat dinding tebing yang ditumbuhi pohonan kecil sebagai tempat berpegang. Ketika kembali dari hulu, baru kami menikmati terjunan itu dengan menggunakan akar yang merambat pada pepohonan untuk berayun dan meluncur ke tanah. Jadi tarzanlah begitu.

Adapun jejak manusia purba ke arah hulu Tondopa adalah berupa lesung batu (watu nohu, bahasa Kabaena). Lesung tersebut terletak di sebuah kolam, masih di Sungai Lakambula. Ada lima lesung di sana tetapi hanya satu yang berbentuk agak sempurna. Ada juga alu yang menyerupai  batu ulekan sambel.

Boleh jadi lesung batu tersebut merupakan produk kebudayaan zaman mesolitikum (zaman batu tengah), lebih tua dari zaman batu besar (megalitikum). Menurut referensi yang ada, pada zaman mesolitikum, kehidupan manusia dipandang lebih maju dibanding kehidupan masa batu tua (paelotikum). Manusia mulai hidup agak menetap dan mempunyai alat untuk mengolah makanan seperti lesung batu di hulu Sungai Lakambula itu. ***

Sumber: http://yaminindas.com/?p=1463

Posted by: Komunitas KabaenaMoronene | November 10, 2015

Festival Tangkeno

 Festival Tangkeno dan Penebasan Leher

 Festival Tangkeno dan Penebasan Leher  

Sejumlah nelayan mengangkat Penyu Hijau (Chelonia mydas) dari atas perahu di Desa Bajo Indah, Kolaka, Sulawesi Tenggara, 22 Mei 2015. TEMPO/Fahmi Ali

TEMPO.CO, Jakarta – Festival Tangkeno 2015-sebuah festival budaya-tradisi dari suku tertua di Sulawesi Tenggara. Dulu, Festival in cukup horor dan kejam. Dulu ritual adat di situ selalu menghadirkan Lumense.

Menurut Mokole XXIX Kabaena, Muhammad Ilfan Nurdin, S.H., M.Hum., Lumense tumbuh dan berkembang sesuai dengan peradaban. Pada zaman pra-Islam, Lumense sakral dan hanya ditarikan para yo’bisa (orang yang paham alam gaib dan berilmu kanuragan). Yo’bisa secara spontan menari (vovolia) saat mendengar gendang Lumense ditabuh. Di pulau ini, miano da’Vovalia berumur panjang. Ina Wendaha, Maestro Lumense, mencapai usia 114 tahun.

Lumense adalah penebus diri para pelanggar adat (me’oli). Pelanggaran berdampak pada ketidakseimbangan kosmos, alam, manusia, dan menyebabkan bencana. Nah, ini yang menyeramkan!-maka Lumense menjadi media ritual persembahan. Para bonto menggelar Lumense yang diakhiri pemenggalan (penebasan) leher subyek persembahan, yakni seorang gadis/jejaka. Pada era Islam, subyek tarian diganti ternak, hingga Kiai Haji Daud bin Haji Abdullah Al-Kabaeny menggantinya dengan pohon pisang.

Pementasan seni malam harilah yang paling ditunggu. Warga dan sekolah se-Pulau Kabaena berpartisipasi dalam berbagai lomba selama festival: tari tradisi, permainan, hingga sastra lisan Tumburi’Ou (hikayat/dongeng). Festival tahun depan akan menambah cabang sastra lisan: Kada (epos) dan Mo’ohohi (syair). Itu tiga dari lima sastra lisan Kabaena, selain Ka’Olivi (nasihat/amanah) dan Mo’odulele (syair perkabaran).

Kabaena memang kaya tradisi yang terpelihara. Kedatuan Kabaena lampau punya banyak sejarah dan kisah unik. Selatnya digunakan sebagai rute penting pelayaran rempah Nusantara, hingga dua ekspedisi besar pernah memetakan potensinya: Ekspedisi Sunda, 1911 dan Ekspedisi Celebes, 1929. Ekspedisi yang disebut terakhir itu dipimpin Prof. H.A. Brouwer dan berhasil memperkenalkan batuan mulia (carnelian) Kabaena ke Eropa. Carnelian serta rekaman petrologi pulau ini dipresentasikan oleh C.G. Egeler di Bandung tahun 1946, dan kini tersimpan rapi di Geological Institute, University of Amsterdam.

Peradaban Kabaena punya sistem penanggalan unik yang disebut Bilangari. Almanak bermatriks lunar dengan sembilan varian ini masih digunakan sehari-hari, khususnya menentukan permulaan musim tanam, pelayaran, pernikahan, pendirian rumah, upacara adat, bahkan konon, serta menghitung waktu kelahiran dan kematian seseorang.

Pulau “kecil” ini juga berkontribusi pada sastra Indonesia. Khrisna Pabicara, novelis Sepatu Dahlan, adalah satu dari beberapa penulis Indonesia yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di sini. Bambang Sukmawijaya, cerpenis Anita, juga dari pulau ini. Generasi Kabaena sungguh dibesarkan dalam tradisi sastra yang baik.

TIPS: Apa yang Harus Dilakukan

– Waktu kunjungan paling baik ke Kabaena pada Mei-Agustus (musim panen/Po’kotua) dan September-Desember (festival tradisi-budaya).
– Pada bulan-bulan ini, laut begitu teduh.
– Sebaiknya melalui jalur Kendari-Kasipute (via darat + 3 jam) dengan jalan darat yang mulus, dan Kasipute-Kabaena (via laut). Menggunakan jet-foil, waktu tempuh hanya 2 jam. Jet-foil beroperasi pada Selasa dan Sabtu, berangkat pagi pukul 08.00 dan siang pukul 12.00 Wita. Dari Kabaena-Kasipute, jet-foil melayani pada hari yang sama. Dari Kota Baubau, ada juga jet-foil yang melayani jalur ini (Baubau-Kabaena-Kasipute) pada Senin dan Jumat.
– Setiap orang di Kabaena bersedia membantu Anda. Jasa ojek tarifnya murah dan bisa diatur. Penyewaan kendaraan juga ada. Tarif guide tidak dipatok.
– Tidak (belum) ada hotel/motel/penginapan. Tapi setiap rumah warga bisa menjadi home-stay. Mereka tak meminta apa pun dari Anda.
– Untuk hiking, selalu gunakan guide warga lokal untuk menghindari beberapa wilayah larangan (tak boleh dimasuki). Untuk rock-climbing, persiapkan alat dengan baik. Tingkat kesulitan dan kemiringan tebing batu di Gunung Watu Sangia beragam. Formasi batuannya berupa karst muda.

Sumber: TEMPO (Festival Tangkeno)

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: